LAPORAN
PRAKTIKUM BIOKIMIA
LIPID
Disusun oleh:
Alberto D. N. Nahak (41150064)
Julia Elfreda C. (41150022)
Komang Marita S. (41150065)
Prayana Banjarnahor (41150058)
Yatatik Kartika (41150089)
Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Duta Wacana
Yogyakarta 2015-2016
BAB I
DASAR
TEORI
UJI
KELARUTAN LIPID
Uji ini
terdiri atas analisis kelarutan lipid maupun derivat lipid terdahadap berbagai
macam pelarut. Dalam uji ini, kelarutan lipid ditentukan oleh sifat kepolaran
pelarut. Apabila lipid dilarutkan ke dalam pelarut polar maka hasilnya lipid
tersbut tidak akan larut. Hal tersebut karena lipid memiliki sifat nonpolar
sehingga hanya akan larut pada pelarut yang sama-sama nonpolar.
UJI
ACROLEIN
Uji
kualitatif lipid lainnya adalah uji akrolein. Dalam uji ini terjadi dehidrasi
gliserol dalam bentuk bebas atau dalam lemak/minyak menghasilkan aldehid
akrilat atau akrolein. Menurut Scy Tech Encyclopedia, uji akrolein digunakan
untuk menguji keberadaan gliserin atau lemak. Ketika lemak dipanaskan setelah
ditambahkan agen pendehidrasi (KHSO4) yang akan menarik air, maka bagian
gliserol akan terdehidrasi ke dalam bentuk aldehid tidak jenuh atau dikenal
sebagai akrolein (CH2=CHCHO) yang memiliki bau seperti lemak terbakar dan ditandai
dengan asap putih.
UJI
KEJENUHAN PADA LIPID
Uji
ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang diuji apakah termasuk
asam lemak jenuh atau tidak jenuh dengan menggunakan pereaksi Iod Hubl. Iod
Hubl ini digunakan sebagai indikator perubahan. Asam lemak yang diuji ditambah
kloroform sama banyaknya. Tabung dikocok sampai bahan larut. Setelah itu, tetes
demi tetes pereaksi Iod Hubl dimasukkan ke dalam tabung sambil dikocokdan
perubahan warna yang terjadi terhadap campuran diamati. Asam lemak jenuh dapat
dibedakan dari asam lemak tidak jenuh dengan cara melihat strukturnya. Asam lemak
tidak jenuh memiliki ikatan ganda pada gugus hidrokarbonnya. Reaksi positif
ketidakjenuhan asam lemak ditandai dengan timbulnya warna merah asam lemak,
lalu warna kembali lagi ke warna awal kuning bening. Warna merah yang kembali
pudar menandakan bahwa terdapat banyak ikatan rangkap pada rantai hidrokarbon
asam lemak.
Trigliserida
yang mengandung asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap dapat diadisi oleh
golongan halogen. Pada uji ketidakjenuhan, pereaksi iod huble akan mengoksidasi
asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap pada molekulnya menjadi berikatan
tunggal. Warna merah muda yang hilang selama reaksi menunjukkan bahwa asam
lemak tak jenuh telah mereduksi pereaksi iod huble.
UJI
GLISEROL
Uji
kualitatif lipid lainnya adalah uji ketengikan. Dalam uji ini, diidentifikasi
lipid mana yang sudah tengik dengan yang belum tengik yang disebabkan oleh
oksidasi lipid. Minyak yang akan diuji dicampurkan dengan HCl. Selanjutnya,
sebuah kertas saring dicelupkan ke larutan floroglusinol. Floroglusinol ini
berfungsi sebagai penampak bercak. Setelah itu, kertas digantungkan di dalam
erlenmeyer yang berisi minyak yang diuji. Serbuk CaCO3 dimasukkan ke dalam
erlenmeyer dan segera ditutup. HCl yang ditambahkan akan menyumbangkan ion-ion
hidrogennya yang dapat memecah unsur lemak sehingga terbentuk lemak radikal
bebas dan hidrogen radikal bebas. Kedua bentuk radikal ini bersifat sangat
reaktif dan pada tahap akhir oksidasi akan dihasilkan peroksida.
UJI
SALKOWSKI UNTUK KOLESTEROL
Uji Salkowski
merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan
kolesterol. Kolesterol dilarutkan dengan kloroform anhidrat lalu dengan volume
yang sama ditambahkan asam sulfat. Asam sulfat berfungsi sebagai pemutus ikatan
ester lipid. Apabila dalam sampel tersebut terdapat kolesterol, maka lapisan
kolesterol di bagian atas menjadi berwarna merah dan asam sulfat terlihat
berubah menjadi kuning dengan warna fluoresens hijau.
UJI
LIEBERMAN BUCHARD
Uji
Lieberman Buchard merupakan uji kuantitatif untuk kolesterol. Prinsip uji ini
adalah mengidentifikasi adanya kolesterol dengan penambahan asam sulfat ke
dalam campuran. Sebanyak 10 tetes asam asetat dilarutkan ke dalam larutan
kolesterol dan kloroform (dari percobaan Salkowski). Setelah itu, asam sulfat
pekat ditambahkan. Tabung dikocok perlahan dan dibiarkan beberapa menit.
Mekanisme yang terjadi dalam uji ini adalah ketika asam sulfat ditambahkan ke
dalam campuran yang berisi kolesterol, maka molekul air berpindah dari gugus C3
kolesterol, kolesterol kemudian teroksidasi membentuk 3,5-kolestadiena. Produk
ini dikonversi menjadi polimer yang mengandung kromofor yang menghasilkan warna
hijau. Warna hijau ini menandakan hasil yang positif
Reaksi positif uji ini ditandai dengan adanya
perubahan warna dari terbentuknya warna pink kemudian menjadi biru-ungu dan
akhirnya menjadi hijau tua.
UJI BILANGAN
IOD
Lemak hewan
pada umumnya berupa zat padat pada suhu ruangan,sedangkan lemak yang barasal
dari tumbuhan berupa zat cair. Lemak yang mempunyai titik lebur
tinggi mengandung asam lemak jenuh,sedangkan lemak cair atau yang basa disebut
minyak mengandung asam lemak tidak jenuh. Lemak hewan dan tumbuhan mempunyai
susunan asam lemak yang berbeda-beda. Untuk menentukan derajat ketidakjenuhan
asam lemak yang terkandung didalamnya diukur dengan bilangan iodium. Iodium
dapat bereaksi dengan ikatan rangkap dalam asam lemak. Tiap molekul iodium
mengadakan reaksi adisi pada suatu ikatan rangkap. Oleh karenanya makin banyak
ikatan rangkap,makin banyak pula iodium yang dapat bereaksi.
Dikehidupan
sehari hari kita mengenal lemak atau lipid, Lemak dan minyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai mentega
dan lemak hewan. Minyak umumnya berasal dari tumbuhan, contohnya minyak jagung,
minyak zaitun, minyak kacang, dan lain-lain. Walaupun lemak berbentuk padat dan
minyak adalah cairan, keduanya mempunyai struktur dasar yang sama. Lemak dan
minyak adalah triester dari gliserol, yang dinamakan trigliserida.
BAB
II
PERSIAPAN
PRAKTIKUM
2.1 Percobaan 1
Tujuan
: Untuk mengetahui kelarutan lipid pada suatu pelarut tertentu.
Alat
dan Bahan :
1. Tabung
reaksi 6.Eter
2. Pipet
tetes 7.Air
3. Pipet
ukur 8.Larutan
Na2CO3 1 %
4. Kloroform
9.Minyak
kelapa
5. Larutan
empedu encer
2.2 Percobaan 2
Tujuan
: Untuk mengetahui dan menguji ketidak jenuhan lipid.
Alat
dan Bahan :
1. Tabung
reaksi 6.
Minyak kelapa
2. Pipet
tetes 7.
Minyak kacang
3. Pipet
ukur 8.
Minyak wijen
4. Kloroform 9.
Lemak binatang
5. Hubl
jod reagen
2.3 Percobaan 3
Tujuan : Mengetahui ada/tidaknya
gliserol
Alat dan Bahan :
1. Tabung
reaksi 4.Minyak
kelapa sawit
2. Pipet
tetes 5.KHSO4
3. Gliserol 6.Lampu
Spiritus
Percobaan 4
Tujuan
: mengetahui adanya endapan Cu(OH)2 atau tidak dan juga mengetahui
kelarutan Cu(OH)2 pada lipid.
Alat
dan Bahan :
1. Tabung
reaksi 3. CuSO4
2. Pipet
tetes 4. Gliserol
2.5 Percobaan 5
Tujuan : Untuk mengetahui kristal kolesterol pada lipid.
Alat dan Bahan :
1. Alkohol
panas 3. Kolesterol
2. Gelas
ukur 4.
Waterbat
2.6
Percobaan 6
Tujuan
: Mengetahui ada tidaknya kolesterol (dengan adanya flourensensi)
Alat
dan Bahan :
1. Tabung
Reaksi 5.
Kolesterol
2. Pipet
ukur 6.
Asam Sulfat
3. Kloroform
2.7
Percobaan 7
Tujuan
: Untuk mengidentifikasi dan mengetahui kandungan lipid pada suatu senyawa.
Alat
dan Bahan :
1. Tabung
Reaksi 5. Minyak Baru
2. Pipet
tetes 6. Eter
3. Minyak
Jelantah 7. Cawan
Porselin
4.
Kertas Biasa
BAB III
HASIL PRAKTIKUM
PERCOBAAN 1
Tabung 1
(Klorofom + minyak kelapa)
|
Tabung 2
(eter + minyak kelapa)
|
Tabung 3
(air + minyak kelapa)
|
Tabung 4
(Na2CO3 + minyak kelapa)
|
Tabung 5
(empedu encer + minyak kelapa)
|
Minyak kelapa larut, warna bening
|
Minyak kelapa larut, warna bening
|
Minyak kelapa tidak larut, terdapat pemisahan antara
minyak kelapa dan air
|
Minyak kelapa larut, ada buih di atas larutan, warna
berubah menjadi putih susu
|
Minyak kelapa terpecah menjadi lebih kecil (terbentuk
emulsi), warna larutan tetap hijau
|
PERCOBAAN
2
Tabung 1(minyak
kelapa)
|
Tabung 2(minyak
kacang)
|
Tabung 3(minyak wijen)
|
Tabung 4(lemak
binatang)
|
Tabung 5
|
40 tetes untuk
menghilangkan warna ungu
|
27 tetes untuk
menghilangkan warna ungu
|
16 tetes untuk
menghilangkan warna ungu
|
23 tetes untuk
menghilangkan warna ungu
|
Kontrol (Ungu)
|
PERCOBAAN
3
Gliserol
+ KHSO4 à Berbau merangsang.
Minyak
Kelapa sawit + KHSO4 à
Berbau tidak merangsang.
PERCOBAAN
4
REAKSI
|
HASIL
|
CuSO4 +
NaOH +
Gliserol
|
Endapan putih di atas
permukaan tabung, dibawahnya
ada larutan biru muda,
dibawah larutan biru muda ada
larutan biru tua, di
dasar tabung berwarna bening.
|
Percobaan 5:
Percobaan 6:
Dari percobaan yang dilakukan,
diamati pada lapisan bagian atas berwarna orange gelap, kemudian bagian tengah
diantara kedua lapisan terdapat cincin berwarna cokelat gelap, kemudian lapisan
bawah berwarna kuning dengan flouresens hijau jika dilihat di tempat gelap.
Percobaan 7:
Minyak Jelanta + eter à Terdapat sisa minyak kekuningan pada kertas.
Minyak baru + eter à Kertas lebih transparan.
BAB IV
PEMBAHASAN
Percobaan 1:
Derajat kelarutan merupakan
kemampuan suatu zat terlarut untuk dapat larut dalam sejumlah pelarut. Senyawa
yang memiliki kepolaran yang sama akan lebih mudah terlarut dengan pelarut yang
memiliki tingkat kepolaran yang sama. Hal ini sesuai dengan prinsip uji
kelarutan yaitu berdasarkan pada kaidah like
dissolves like yang mana senyawa polar akan larut dalam pelarut polar dan
sebaliknya. Pada tabung 1 dan tabung 2, minyak kelapa larut karena klorofom dan
eter merupakan bahan polar begitu juga dengan lipid yang bersifat polar
sehingga minyak kelapa dapat larut. Sedangkan pada tabung 3 minyak kelapa tidak
dapat larut dengan air karena air
merupakan pelarut yang bersifat nonpolar, sehingga antara air dan minyak kelapa
tidak dapat menyatu. Pada tabung 4, minyak dapat larut tetapi timbul buih atau
busa dan warna berubah menjadi putih susu dikarenakan larutan Na2CO3
1% merupakan basa/alkali. Jika basa dicampur dengan lipid akan terjadi proses
saponifikasi (penyabunan). Pada tabung 5, minyak kelapa dapat larut dan terbentuk
emulsi. Emulsi terbentuk karena empedu memiliki 3 komponen yaitu kolesterol,
garam empedu, dan lesitin. Lesitin merupakan fosfolipid yang berperan sebagai
pengemulsi (emulgator) yaitu bahan kimia yang mampu membuat minyak dan air
tercampur merata.
Percobaan 2 :
Pada percobaan sifat tidak jenuh, kloroform
10 ml di dalam tabung reaksi ditambahkan 10 tetes hubl jod reagen. Hasil hasil
campuran menunjukan warna ungu. Warna ungu yang menghilang pada reaksi menjukan
bahwa asam lemak tak jenuh telah mereduksi pereaksi iod hubl. Dari hasil
percobaan minyak yang ketidakjenuhannya tinggi dimulai dari minyak kelapa(40
tetes), minyak kacang(27 tetes), lemak binatang(23 tetes), minyak wijen(16
tetes). Hilangnya warna hubl iod disebabkan karena perbedaan ikatan pada setiap
minyak yang direaksikan. Ikatan rangkap akan diubah oleh pereaksi hubl iod
menjadi ikatan tunggal sehingga terjadi perubahan warna yang lebih cepat
apabila dibandingkan dengan minyak yang tidak memiliki ikatan rangkap. Dari hal
diatas maka pada setiap minyak memiliki ikatan yang berbeda. Semakin banyak
ikatan rangkap semakin cepat warna iod hilang, karena seluruh I2
telah digunakan untuk memutuskan ikatan rangkap.
Percobaan 3 :
Gliserol berbau lebih merangsang karena gliserol telah
terdehidrasi menjadi akrolien sehingga bau merangsang yang kita cium merupakan
bau dari akrolien. Sedangkan minyak sawit berbau tidak merangsang karena karena
harus terlebih dahulu dipecah menjadi asam lemak dan gliserol.
Percobaan 4 :
Kami
mencampurkan CuSO4 dengan NAOH sehingga membentuk Cu(OH)2
yang sebagian berbentuk aqua dan sebagian lagi berbentuk padat sehingga hal ini
dapat menjelaskan adanya endapan yang berwarna putih. Selanjutnya ditambahkan
gliserol, ini untuk melarutkan endapan berwarna putih tersebut karena gliserol
pada tekanan atmosfer dibawah 240 derajat celcius dapat menangkap partikel
tembaga yang bersifat padat menjadi bersifat aq, sehingga endapan tersebut
bersifat larut.
Reaksi kimia COSO4
+ 2NaOH àCU(OH)2
+ NA2SO4
Percobaan 5
Terbentuknya kristal kolesterol karena kolesterol terdapat dalam
konsetrasi tinggi, sehingga kolesterol tersebut akan mengkristal. Kristal kolesterol mempunyai sifat-sifat
yaitu tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan mempunyai titik didih 150
– 151oC.
Terbentuknya kristal kolesterol karena kolesterol terdapat dalam
konsetrasi tinggi, sehingga kolesterol tersebut akan mengkristal. Kristal kolesterol mempunyai sifat-sifat
yaitu tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan mempunyai titik didih 150
– 151oC.
Percobaan 6 :
Uji Salkowski dengan
menggunakan pereaksi asam sulfat yang ditambahkan berfungsi sebagai pemutus
ikatan ester lipid. Apabila dalam sampel tersebut terdapat kolesterol, maka
lapisan kolesterol di bagian atas menjadi warna merah. Cincin coklat yang
terbentuk merupakan hasil reaksi antara kolesterol dengan asam sulfat pekat.
Warna kuning pada lapisan bawah adalah asam sulfat pekat.
Penambahan
kloroform berfungsi untuk melarutkan kolesterol yang terkandung di dalam
sampel. Fungsi dari kloroform
adalah untuk melarutkan lemak karena sifat dari lemak atau lipid adalah non
polar. Sesuai dengan prinsip “like disolve like” maka senyawa non polar
akan larut pada pelarut non polar .
Adanya kolesterol dapat
ditentukan dengan menggunakan beberapa reaksi warna. Salah satu di antaranya
ialah reaksi Salkowski. Apabila kolesterol dilarutkan asam sulfat pekat dengan
hati-hati, maka bagian asam berwarna kekuningan dengan fluoresensi hijau bila
dikenai cahaya. Bagian kloroform akan berwarna biru dan yang berubah menjadi
menjadi merah dan ungu. Larutan kolesterol dalam kloroform bila ditambah asam
sulfat pekat, maka larutan tersebut mula-mula akan berwarna merah, kemudian
biru dan hijau. Ini disebut reaksi Lieberman Burchard.
Percobaan
7:
Pada
kertas yang dioleskan campuran minyak jelanta dan eter akan terdapat sisa
minyak berwarna kekuningan karena ikatan rangkapnya telah putus akibat sering
digunakan.
Pada kertas yang dioleskan
campuran minyak baru dan eter, warnya akan lebih transparan karena terdapat
selulosa dari minyak tumbuhan dan juga ikatan rangkap pada minyak baru lebih
banyak.
Bab V
KESIMPULAN
11. Asam lemak larut
dalam kloroform dan eter, karena kloroform dan eter merupakan pelarut lemak dan
bersifat nonpolar. Sedangkan air minyak tidak dapat larut karena air bersifat polar. Pada cairan empedu terjadi emulsi.
22. Lemak binatang
merupakan lemak tidak jenuh karena tidak memiliki ikatan rangkap pada molekulnya
33. Ketika Gliserol di
panaskan akan didapatkan bau merangsang karena gliserol merupakan hasil akhir
dari pemecahan Lipid yaitu acrolien.
44.
Kolesterol adalah
sumber sterol jenuh
55.
Kadar kolesterol yang tinggi akan
mengendap apabila dilarutkan dengan alcohol panas lalu membentuk Kristal bening
dan tidak berbau
66. Eter dapat melarutkan lemak
DAFTAR PUSTAKA
Murray, R.K., D.K. Granner, P.A. Mayes and V.W Rodwell.
2012. Harper’s Illustrated Biochemistry, 29th edition. Sidney:McGraw Hill.
Poedjadi Anna dan F M Titin Supriyanti. 2011. Dasar-dasar
Biokimia. Jakarta : UI-Press
Jalip. Ikna Suyatna. 2011. Penuntun Praktikum Biokimia
Laboratorium Kimia. Universitas Nasional Jakarta
Santoso, Anwar. 2008.Biokimia
Lengkap . Jakarta :PT. Wahyu Media.
Chawla, R. (2014). Practical clinical biochemistry:
Methods and interpretations (4th ed., p. 62). JP Medical.
Ditujukan kepada dr. Yoseph Leonardo S.












