Rabu, 25 November 2015

LAPORAN BIOKIMIA LIPID TAHUN 2015

 LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA
LIPID


Disusun oleh:

Alberto D. N. Nahak          (41150064)
Julia Elfreda C.                 (41150022)
Komang Marita S.            (41150065)
Prayana Banjarnahor       (41150058)
Yatatik Kartika                  (41150089)


Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Duta Wacana
Yogyakarta 2015-2016




BAB I
DASAR TEORI
UJI KELARUTAN LIPID

Uji ini terdiri atas analisis kelarutan lipid maupun derivat lipid terdahadap berbagai macam pelarut. Dalam uji ini, kelarutan lipid ditentukan oleh sifat kepolaran pelarut. Apabila lipid dilarutkan ke dalam pelarut polar maka hasilnya lipid tersbut tidak akan larut. Hal tersebut karena lipid memiliki sifat nonpolar sehingga hanya akan larut pada pelarut yang sama-sama nonpolar.

UJI  ACROLEIN

Uji kualitatif lipid lainnya adalah uji akrolein. Dalam uji ini terjadi dehidrasi gliserol dalam bentuk bebas atau dalam lemak/minyak menghasilkan aldehid akrilat atau akrolein. Menurut Scy Tech Encyclopedia, uji akrolein digunakan untuk menguji keberadaan gliserin atau lemak. Ketika lemak dipanaskan setelah ditambahkan agen pendehidrasi (KHSO4) yang akan menarik air, maka bagian gliserol akan terdehidrasi ke dalam bentuk aldehid tidak jenuh atau dikenal sebagai akrolein (CH2=CHCHO) yang memiliki bau seperti lemak terbakar dan ditandai dengan asap putih.

UJI KEJENUHAN PADA LIPID 

Uji ketidakjenuhan digunakan untuk mengetahui asam lemak yang diuji apakah termasuk asam lemak jenuh atau tidak jenuh dengan menggunakan pereaksi Iod Hubl. Iod Hubl ini digunakan sebagai indikator perubahan. Asam lemak yang diuji ditambah kloroform sama banyaknya. Tabung dikocok sampai bahan larut. Setelah itu, tetes demi tetes pereaksi Iod Hubl dimasukkan ke dalam tabung sambil dikocokdan perubahan warna yang terjadi terhadap campuran diamati. Asam lemak jenuh dapat dibedakan dari asam lemak tidak jenuh dengan cara melihat strukturnya. Asam lemak tidak jenuh memiliki ikatan ganda pada gugus hidrokarbonnya. Reaksi positif ketidakjenuhan asam lemak ditandai dengan timbulnya warna merah asam lemak, lalu warna kembali lagi ke warna awal kuning bening. Warna merah yang kembali pudar menandakan bahwa terdapat banyak ikatan rangkap pada rantai hidrokarbon asam lemak.  
Trigliserida yang mengandung asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap dapat diadisi oleh golongan halogen. Pada uji ketidakjenuhan, pereaksi iod huble akan mengoksidasi asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap pada molekulnya menjadi berikatan tunggal. Warna merah muda yang hilang selama reaksi menunjukkan bahwa asam lemak tak jenuh telah mereduksi pereaksi iod huble.

UJI GLISEROL 

Uji kualitatif lipid lainnya adalah uji ketengikan. Dalam uji ini, diidentifikasi lipid mana yang sudah tengik dengan yang belum tengik yang disebabkan oleh oksidasi lipid. Minyak yang akan diuji dicampurkan dengan HCl. Selanjutnya, sebuah kertas saring dicelupkan ke larutan floroglusinol. Floroglusinol ini berfungsi sebagai penampak bercak. Setelah itu, kertas digantungkan di dalam erlenmeyer yang berisi minyak yang diuji. Serbuk CaCO3 dimasukkan ke dalam erlenmeyer dan segera ditutup. HCl yang ditambahkan akan menyumbangkan ion-ion hidrogennya yang dapat memecah unsur lemak sehingga terbentuk lemak radikal bebas dan hidrogen radikal bebas. Kedua bentuk radikal ini bersifat sangat reaktif dan pada tahap akhir oksidasi akan dihasilkan peroksida.

UJI SALKOWSKI UNTUK KOLESTEROL

Uji Salkowski merupakan uji kualitatif yang dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan kolesterol. Kolesterol dilarutkan dengan kloroform anhidrat lalu dengan volume yang sama ditambahkan asam sulfat. Asam sulfat berfungsi sebagai pemutus ikatan ester lipid. Apabila dalam sampel tersebut terdapat kolesterol, maka lapisan kolesterol di bagian atas menjadi berwarna merah dan asam sulfat terlihat berubah menjadi kuning dengan warna fluoresens hijau.

UJI LIEBERMAN BUCHARD 

Uji Lieberman Buchard merupakan uji kuantitatif untuk kolesterol. Prinsip uji ini adalah mengidentifikasi adanya kolesterol dengan penambahan asam sulfat ke dalam campuran. Sebanyak 10 tetes asam asetat dilarutkan ke dalam larutan kolesterol dan kloroform (dari percobaan Salkowski). Setelah itu, asam sulfat pekat ditambahkan. Tabung dikocok perlahan dan dibiarkan beberapa menit. Mekanisme yang terjadi dalam uji ini adalah ketika asam sulfat ditambahkan ke dalam campuran yang berisi kolesterol, maka molekul air berpindah dari gugus C3 kolesterol, kolesterol kemudian teroksidasi membentuk 3,5-kolestadiena. Produk ini dikonversi menjadi polimer yang mengandung kromofor yang menghasilkan warna hijau. Warna hijau ini menandakan hasil yang positif
 Reaksi positif uji ini ditandai dengan adanya perubahan warna dari terbentuknya warna pink kemudian menjadi biru-ungu dan akhirnya menjadi hijau tua.

UJI BILANGAN IOD

Lemak hewan pada umumnya berupa zat padat pada suhu ruangan,sedangkan lemak yang barasal dari tumbuhan berupa zat cair. Lemak  yang mempunyai titik lebur  tinggi mengandung asam lemak jenuh,sedangkan lemak cair atau yang basa disebut minyak mengandung asam lemak tidak jenuh. Lemak hewan dan tumbuhan mempunyai susunan asam lemak yang berbeda-beda. Untuk menentukan derajat ketidakjenuhan asam lemak yang terkandung didalamnya diukur dengan bilangan iodium. Iodium dapat bereaksi dengan ikatan rangkap dalam asam lemak. Tiap molekul iodium mengadakan reaksi adisi pada suatu ikatan rangkap. Oleh karenanya makin banyak ikatan rangkap,makin banyak pula iodium yang dapat bereaksi.
Dikehidupan sehari hari kita mengenal lemak atau lipid, Lemak dan minyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, yaitu sebagai mentega dan lemak hewan. Minyak umumnya berasal dari tumbuhan, contohnya minyak jagung, minyak zaitun, minyak kacang, dan lain-lain. Walaupun lemak berbentuk padat dan minyak adalah cairan, keduanya mempunyai struktur dasar yang sama. Lemak dan minyak adalah triester dari gliserol, yang dinamakan trigliserida.






            BAB II
PERSIAPAN PRAKTIKUM

2.1 Percobaan 1 
Tujuan : Untuk mengetahui kelarutan lipid pada suatu pelarut tertentu.
Alat dan Bahan :
1.    Tabung reaksi                      6.Eter
2.    Pipet tetes                             7.Air
3.    Pipet ukur                              8.Larutan Na2CO3 1 %       
4.    Kloroform                               9.Minyak kelapa
5.    Larutan empedu encer



2.2 Percobaan 2
Tujuan : Untuk mengetahui dan menguji ketidak jenuhan lipid.
Alat dan Bahan :
1.    Tabung reaksi                                  6. Minyak kelapa
2.    Pipet tetes                                         7. Minyak kacang
3.    Pipet ukur                                          8. Minyak wijen
4.    Kloroform                                           9. Lemak binatang
5.    Hubl jod reagen



2.3 Percobaan 3
            Tujuan : Mengetahui ada/tidaknya gliserol
Alat dan Bahan :
1.    Tabung reaksi                       4.Minyak kelapa sawit
2.    Pipet tetes                             5.KHSO4
3.    Gliserol                                  6.Lampu Spiritus



Percobaan 4
Tujuan : mengetahui adanya endapan Cu(OH)2 atau tidak dan juga mengetahui kelarutan Cu(OH)2 pada lipid.
Alat dan Bahan :
1.    Tabung reaksi                 3. CuSO4      
2.    Pipet tetes                        4. Gliserol
                                                                  


2.5 Percobaan 5
            Tujuan : Untuk mengetahui kristal kolesterol pada lipid.
            Alat dan Bahan :
1.    Alkohol panas                      3. Kolesterol
2.    Gelas ukur                            4. Waterbat



2.6 Percobaan 6
Tujuan : Mengetahui ada tidaknya kolesterol (dengan adanya flourensensi)
Alat dan Bahan :
1.    Tabung Reaksi                                 5. Kolesterol
2.    Pipet ukur                                          6. Asam Sulfat
3.    Kloroform




2.7 Percobaan 7
Tujuan : Untuk mengidentifikasi dan mengetahui kandungan lipid pada suatu senyawa.
Alat dan Bahan :
1.    Tabung Reaksi                     5. Minyak Baru
2.    Pipet tetes                             6. Eter
3.    Minyak Jelantah                  7. Cawan Porselin
4.    Kertas Biasa     






BAB III
HASIL PRAKTIKUM
PERCOBAAN 1
Tabung 1
(Klorofom + minyak kelapa)
Tabung 2
(eter + minyak kelapa)
Tabung 3
(air + minyak kelapa)
Tabung 4
(Na2CO3 + minyak kelapa)
Tabung 5
(empedu encer + minyak kelapa)
Minyak kelapa larut, warna bening
Minyak kelapa larut, warna bening
Minyak kelapa tidak larut, terdapat pemisahan antara minyak kelapa dan air
Minyak kelapa larut, ada buih di atas larutan, warna berubah menjadi putih susu
Minyak kelapa terpecah menjadi lebih kecil (terbentuk emulsi), warna larutan tetap hijau

PERCOBAAN 2
Tabung 1(minyak kelapa)
Tabung 2(minyak kacang)
Tabung 3(minyak wijen)
Tabung 4(lemak binatang)
Tabung 5
40 tetes untuk menghilangkan warna ungu
27 tetes untuk menghilangkan warna ungu
16 tetes untuk menghilangkan warna ungu
23 tetes untuk menghilangkan warna ungu
Kontrol (Ungu)

PERCOBAAN 3
Gliserol + KHSOà Berbau merangsang.
Minyak Kelapa sawit + KHSO4 à Berbau tidak merangsang.





PERCOBAAN 4
REAKSI
HASIL
CuSO4 +
NaOH +
Gliserol
Endapan putih di atas permukaan tabung, dibawahnya
ada larutan biru muda, dibawah larutan biru muda ada
larutan biru tua, di dasar tabung berwarna bening.
Percobaan 5: 

= kolesterol


Percobaan 6:
Dari percobaan yang dilakukan, diamati pada lapisan bagian atas berwarna orange gelap, kemudian bagian tengah diantara kedua lapisan terdapat cincin berwarna cokelat gelap, kemudian lapisan bawah berwarna kuning dengan flouresens hijau jika dilihat di tempat gelap.



Percobaan 7:
Minyak Jelanta + eter à Terdapat sisa minyak kekuningan pada kertas.
Minyak baru + eter à Kertas lebih transparan.
BAB IV
PEMBAHASAN

Percobaan 1:
Derajat kelarutan merupakan kemampuan suatu zat terlarut untuk dapat larut dalam sejumlah pelarut. Senyawa yang memiliki kepolaran yang sama akan lebih mudah terlarut dengan pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang sama. Hal ini sesuai dengan prinsip uji kelarutan yaitu berdasarkan pada kaidah like dissolves like yang mana senyawa polar akan larut dalam pelarut polar dan sebaliknya. Pada tabung 1 dan tabung 2, minyak kelapa larut karena klorofom dan eter merupakan bahan polar begitu juga dengan lipid yang bersifat polar sehingga minyak kelapa dapat larut. Sedangkan pada tabung 3 minyak kelapa tidak dapat larut dengan air karena  air merupakan pelarut yang bersifat nonpolar, sehingga antara air dan minyak kelapa tidak dapat menyatu. Pada tabung 4, minyak dapat larut tetapi timbul buih atau busa dan warna berubah menjadi putih susu dikarenakan larutan Na2CO3 1% merupakan basa/alkali. Jika basa dicampur dengan lipid akan terjadi proses saponifikasi (penyabunan). Pada tabung 5, minyak kelapa dapat larut dan terbentuk emulsi. Emulsi terbentuk karena empedu memiliki 3 komponen yaitu kolesterol, garam empedu, dan lesitin. Lesitin merupakan fosfolipid yang berperan sebagai pengemulsi (emulgator) yaitu bahan kimia yang mampu membuat minyak dan air tercampur merata. 

Percobaan 2 :
Pada percobaan sifat tidak jenuh, kloroform 10 ml di dalam tabung reaksi ditambahkan 10 tetes hubl jod reagen. Hasil hasil campuran menunjukan warna ungu. Warna ungu yang menghilang pada reaksi menjukan bahwa asam lemak tak jenuh telah mereduksi pereaksi iod hubl. Dari hasil percobaan minyak yang ketidakjenuhannya tinggi dimulai dari minyak kelapa(40 tetes), minyak kacang(27 tetes), lemak binatang(23 tetes), minyak wijen(16 tetes). Hilangnya warna hubl iod disebabkan karena perbedaan ikatan pada setiap minyak yang direaksikan. Ikatan rangkap akan diubah oleh pereaksi hubl iod menjadi ikatan tunggal sehingga terjadi perubahan warna yang lebih cepat apabila dibandingkan dengan minyak yang tidak memiliki ikatan rangkap. Dari hal diatas maka pada setiap minyak memiliki ikatan yang berbeda. Semakin banyak ikatan rangkap semakin cepat warna iod hilang, karena seluruh I2 telah digunakan untuk memutuskan ikatan rangkap.

Percobaan 3 :
Gliserol berbau lebih merangsang karena gliserol telah terdehidrasi menjadi akrolien sehingga bau merangsang yang kita cium merupakan bau dari akrolien. Sedangkan minyak sawit berbau tidak merangsang karena karena harus terlebih dahulu dipecah menjadi asam lemak dan gliserol.

Percobaan 4 :
Kami mencampurkan CuSO4 dengan NAOH sehingga membentuk Cu(OH)2 yang sebagian berbentuk aqua dan sebagian lagi berbentuk padat sehingga hal ini dapat menjelaskan adanya endapan yang berwarna putih. Selanjutnya ditambahkan gliserol, ini untuk melarutkan endapan berwarna putih tersebut karena gliserol pada tekanan atmosfer dibawah 240 derajat celcius dapat menangkap partikel tembaga yang bersifat padat menjadi bersifat aq, sehingga endapan tersebut bersifat larut.
Reaksi kimia COSO4 + 2NaOH àCU(OH)2 + NA2SO4
Percobaan 5
Terbentuknya kristal kolesterol karena kolesterol terdapat dalam konsetrasi tinggi, sehingga kolesterol tersebut akan mengkristal. Kristal kolesterol mempunyai sifat-sifat yaitu tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan mempunyai titik didih 150 – 151oC.
Terbentuknya kristal kolesterol karena kolesterol terdapat dalam konsetrasi tinggi, sehingga kolesterol tersebut akan mengkristal. Kristal kolesterol mempunyai sifat-sifat yaitu tidak berbau, tidak berwarna, tidak berasa dan mempunyai titik didih 150 – 151oC.

Percobaan 6 :
           Uji Salkowski dengan menggunakan pereaksi asam sulfat yang ditambahkan berfungsi sebagai pemutus ikatan ester lipid. Apabila dalam sampel tersebut terdapat kolesterol, maka lapisan kolesterol di bagian atas menjadi warna merah. Cincin coklat yang terbentuk merupakan hasil reaksi antara kolesterol dengan asam sulfat pekat. Warna kuning pada lapisan bawah adalah asam sulfat pekat.
 Penambahan kloroform berfungsi untuk melarutkan kolesterol yang terkandung di dalam sampel. Fungsi dari kloroform adalah untuk melarutkan lemak karena sifat dari lemak atau lipid adalah non polar. Sesuai dengan prinsip “like disolve like” maka senyawa non polar akan larut pada pelarut non polar .
  Adanya kolesterol dapat ditentukan dengan menggunakan beberapa reaksi warna. Salah satu di antaranya ialah reaksi Salkowski. Apabila kolesterol dilarutkan asam sulfat pekat dengan hati-hati, maka bagian asam berwarna kekuningan dengan fluoresensi hijau bila dikenai cahaya. Bagian kloroform akan berwarna biru dan yang berubah menjadi menjadi merah dan ungu. Larutan kolesterol dalam kloroform bila ditambah asam sulfat pekat, maka larutan tersebut mula-mula akan berwarna merah, kemudian biru dan hijau. Ini disebut reaksi Lieberman Burchard.

Percobaan 7:
            Pada kertas yang dioleskan campuran minyak jelanta dan eter akan terdapat sisa minyak berwarna kekuningan karena ikatan rangkapnya telah putus akibat sering digunakan.
Pada kertas yang dioleskan campuran minyak baru dan eter, warnya akan lebih transparan karena terdapat selulosa dari minyak tumbuhan dan juga ikatan rangkap pada minyak baru lebih banyak.












Bab V
KESIMPULAN
11.   Asam lemak larut dalam kloroform dan eter, karena kloroform dan eter merupakan pelarut  lemak dan bersifat nonpolar. Sedangkan air minyak tidak dapat larut karena air bersifat  polar. Pada cairan empedu terjadi emulsi.
22.   Lemak binatang merupakan lemak tidak jenuh karena tidak memiliki ikatan rangkap pada    molekulnya
33.  Ketika Gliserol di panaskan akan didapatkan bau merangsang karena gliserol merupakan  hasil akhir dari pemecahan Lipid yaitu acrolien.
44.    Kolesterol adalah sumber sterol jenuh
55.    Kadar kolesterol yang tinggi akan mengendap apabila dilarutkan dengan alcohol panas lalu  membentuk Kristal bening dan tidak berbau
66.   Eter dapat melarutkan lemak 











DAFTAR PUSTAKA
Murray, R.K., D.K. Granner, P.A. Mayes and V.W Rodwell. 2012. Harper’s Illustrated Biochemistry, 29th edition. Sidney:McGraw Hill.
Poedjadi Anna dan F M Titin Supriyanti. 2011. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta : UI-Press
Jalip. Ikna Suyatna. 2011. Penuntun Praktikum Biokimia Laboratorium Kimia. Universitas Nasional Jakarta
Santoso, Anwar. 2008.Biokimia Lengkap . Jakarta :PT. Wahyu Media.

Chawla, R. (2014). Practical clinical biochemistry: Methods and interpretations (4th ed., p. 62). JP Medical.








Ditujukan kepada dr. Yoseph Leonardo S.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar